Tren Thrifting di Kalangan Muda, Berawal Dari Salah Kaprah

Tren Thrifting di Kalangan Muda

Seiring dengan tren outfit of the day yang digaungkan oleh para selebritis media informasi dan media sosial, masyarakat pun semakin banyak yang mengikuti tren ini. Tentu saja untuk memiliki penampilan yang matching dan enak dilihat dari ujung rambut hingga ujung kaki bukanlah hal yang mudah dan murah. Inilah mengapa tren thrifting membuka peluang kaum OOTD untuk tetap bisa mengikuti tren fashion, tanpa harus mengeluarkan dana yang terlalu besar.

Mari sebelumnya kita bahas mengenai apa arti dari thrifting itu sendiri. Berasal dari kata dasar thrift yang artinya: kebiasaan menghemat dan membelanjakan uang dengan hemat, sehingga tidak ada uang yang dihamburkan percuma. Demikian penjelasan yang kami dapat dari kamus Oxford. Jadi sebenarnya kata thrift sebenarnya soal menghemat pengeluaran. Hmmm, selama ini banyak dari kita yang salah kaprah ya ternyata!?

Tetapi karena gerakan menyelamatkan bumi mulai merambah ke dunia fesyen, dimana fast fashion industry ditunjuk ikut terlibat dalam kegiatan memperburuk keadaan bumi, maka gerakan thrifting pun digaungkan. Seperti yang kita semua ketahui, tren mode pakaian cepat sekali berubah. Perubahan tren yang begitu cepat ini tentu saja membuat produsen terus menciptakan berbagai produk baru dalam rentan waktu yang singkat.

Dengan metode thrifting, kita diajak lebih bijak dalam membeli pakaian. Agar pakaian yang dipilih dapat digunakan dalam berbagai situasi atau cuaca. Terutama dengan melakukan mix and match, kita diharapkan untuk tetap bertahan dengan stok pakaian yang telah ada untuk mendapatkan penampilan baru yang lebih segar. Metode mix and match pakaian yang dulu dipandang sebelah mata, kini justru mempermudah kita untuk tetap menjaga penampilan dengan tidak menambah koleksi pakaian terlalu banyak.

Terlebih dengan mengikuti tren thrifting, kalangan muda yang haus akan tren terbaru tidak perlu malu lagi untuk membeli pakaian preloved atau second hand. Karena walaupun pakaian yang dibeli, kebanyakan merupakan “barang bekas”, tetapi kondisinya masih baik dan layak untuk digunakan. Karena tren thrifting memang mengajak kita untuk lebih bijak dalam membeli dan menggunakan barang, termasuk pakaian. Sehingga penggunaan barang bekas bukannya dihujat tetapi justru mendapat dukungan oleh tren ini.

Bukan hanya dalam urusan pakaian loh sebenarnya. Kita bisa melakukan thrifting di berbagai kebutuhan, seperti perlengkapan keperluan kerja dan perlengkapan rumah tangga. Mulai dari perlengkapan mebel, barang elektronik hingga produk interior dan eksterior lainnya. Kegiatan berburu barang thrift, preloved atau second use juga bisa menjadi hal yang menyenangkan loh!

Yang terutama, tentu kita harus cermat dalam mengamati dan memilih barang. Karena biar bagaimanapun, barang yang sudah digunakan orang lain pasti sudah mengalami penurunan kondisi. Jadi jangan hanya mengikuti tren tapi nantinya barang yang kita beli malahan tidak dapat digunakan. Justru bukan ikut menyelamatkan bumi, kita justru menambah jumlah sampah karena membeli barang yang tidak digunakan.

Post a comment for "Tren Thrifting di Kalangan Muda, Berawal Dari Salah Kaprah"